Senin, 29 Juni 2009

Kita semua sudahpun mempunyai 4 isteri/suami. begini...... ......... ...

Suatu ketika dahulu, ada seorang pedagang kaya yang mempunyai 4 isteri.

Dia mencintai isteri ke-4 dan menganugerahinya harta dan kesenangan,

sebab ia yang tercantik di antara semua isterinya.


Pria ini juga mencintai isterinya yang ke-3. ia sangat bangga dengan
sang isteri dan selalu berusaha untuk memperkenalkan wanita cantik ini
kepada semua temannya. Namun ia juga selalu khuatir takut isterinya ini
lari dengan pria lain.

Begitu juga dengan isteri ke-2. Sang pedagang sangat menyukainya kerana
ia isteri yang sabar dan penuh pengertian. Ketika pedagang mendapat
masalah, ia selalu minta pertimbangan isteri ke-2-nya ini, yang selalu
menolong dan mendampingi sang suami melewati masa-masa sukarnya.

Sama halnya dengan isteri pertama. Ia adalah pasangan yang sangat setia
dan selalu membawa kebaikan bagi kehidupan keluarganya. Wanita ini yang
merawat dan mengatur semua kekayaan dan bisness sang suami. Akan
tetapi, sang pedagang kurang mencintainya meski isteri pertama ini
begitu sayang kepadanya.

Suatu hari si pedagang sakit dan menyedari bahawa ia akan meninggal dunia.

Ia meresapi semua kehidupan indahnya dan berkata dalam hati, "Ketika
ini aku punya 4 isteri. Namun ketika aku meninggal, aku akan sendiri.
Betapa menyedihkan. "

Lalu pedagang itu memanggil semua isterinya dan bertanya pada isteri
ke-4-nya. "Engkaulah yang paling kucintai, kuberikan kau gaun dan
perhiasan indah. Nah, sekarang aku akan mati. Maukah kamu mendampingi
dan menemaniku?"

Ia terdiam.... tentu saja tidak!

Jawab isteri ke-4 dan pergi begitu saja tanpa berkata apa2 lagi.


Jawaban ini sangat menyakitkan hati. Seakan2 ada pisau terhunus dan
mengiris- iris hatinya. Pedagang itu sedih lalu bertanya pada isteri
ke-3.

"Aku pun mencintaimu sepenuh hati dan saat ini hidupku akan berakhir.

Maukah kau ikut denganku dan menemani akhir hayatku?"


Isterinya menjawab, "hidup begitu indah di sini, Aku akan menikah lagi jika kau mati".

Bagai disambar petir di siang bolong, sang pedagang sangat terpukul
dengan jawaban tsb. Badannya terasa demam. Kemudian ia memanggil isteri
ke-2. "

Aku selalu berpaling kepadamu setiap kali aku mendapat masalah dan kau
selalu membantuku sepenuh hati. Kini aku memerlukan sekali bantuanmu.
Kalau aku mati, maukah engkau mendampingiku? "

Jawab sang isteri, "Maafkan aku kali ini aku tak dapat menolongmu. Aku
hanya dapat menghantarmu hingga ke liang kubur. Nantiakan kubuatkan
makam yang indah untukmu."

Pedagang ini merasa putus asa. Dalam keadaan kecewa itu, tiba-tiba
terdengar suara, "Aku akan tinggal bersamamu dan menemanimu kemana pun
kau pergi. Aku tak akan meninggalkanmu, aku akan setia bersamamu."

Pria itu lalu menoleh ke samping, dan mendapati isteri pertamanya di
sana. Ia tampak begitu kurus. Badannya seperti orang kelaparan. Merasa
menyesal, sang pedagang lalu bergumam, "Kalau saja aku dapat merawatmu
lebih baik saat aku mampu, tak akan kubiarkan engkau kurus seperti ini,
isteriku."

Pengajaran:

HIDUP KITA DIWARNAI 4 ISTERI

Sesungguhnya, kita punya 4 isteri dalam hidup ini.

Isteri ke-4 adalah TUBUH kita.

Seberapa banyak waktu dan biaya yang kita keluarkan untuk tubuh kita
supaya tampak indah dan gagah. Semua ini akan hilang dalam suatu batas
waktu dan ruang. Tak ada keindahan dan kegagahan yang tersisa saat kita
menghadap kepada-Nya.

Isteri ke-3, STATUS SOSIAL DAN KEKAYAAN.

Saat kita meninggal, semuanya akan pergi kepada yang lain. Mereka akan
berpindah danmelupakan kita yang pernah memilikinya. Sebesar apapun
kedudukan kita dalam masyarakat dan sebanyak apapun harta kita, semua
itu akan berpindah tangan dalam waktu sekejap ketika kita tiada.

Sedangkan isteri ke-2, yakni KERABAT DAN TEMAN.

Seberapa pun dekat hubungankita dengan mereka, kita tak akan dapat
terus bersama mereka. Hanya sampai liang kuburlah mereka menemani kita.

Dan sesungguhnya isteri pertama kita adalah JIWA DAN AMAL KITA.

Sebenarnya hanya jiwa dan amal kita sajalah yang mampu untuk terus
setia mendampingi kemana pun kita melangkah. Hanya amallah yang mampu
menolong kita di akhirat kelak.

Jadi, selagi mampu, perlakukanlah jiwa kita dengan bijak serta jangan
dan leka malu untuk berbuat amal, memberikan pertolongan kepada sesama
yang memerlukan. Betapa pun kecilnya bantuan kita, pemberian kita
menjadi sangat bererti bagi mereka yang memerlukannya.

Mari kita belajar memperlakukan jiwa dan amal kita dengan bijak.

Kamis, 25 Juni 2009

"Percayalah kepada Tuhan dengan segenap
hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu
sendiri" (Ams. 3:5) "
 

 Kisah 3 pohon

 
 Memang benar kita semua punya mimpi-mimpi yang hancur dan
Allah tetap berdiri di atas mimpi-mimpi kita yang hancur
karena Dia memiliki mimpi yang lebih baik, lebih tinggi,
lebih agung bagi kita...
 

Alkisah, ada tiga pohon di dalam hutan.

Suatu hari, ketiganya saling menceritakan

mengenai harapan dan impian mereka. 


Pohon pertama berkata:

"Kelak aku ingin menjadi peti harta karun.

Aku akan diisi emas, perak dan

berbagai batu permata dan semua orang

akan mengagumi keindahannya" .


Kemudian pohon kedua berkata:

"Suatu hari kelak aku akan menjadi sebuah kapal yang besar.

Aku akan mengangkut raja-raja dan berlayar ke ujung dunia.

Aku akan menjadi kapal yang kuat dan setiap orang merasa aman

berada dekat denganku".

Lalu giliran pohon ketiga yang menyampaikan impiannya:
 "Aku ingin tumbuh menjadi pohon yang tertinggi di
hutan di puncak bukit. Orang-orang akan memandangku dan
berpikir betapa aku begitu dekat untuk menggapai surga dan
TUHAN. Aku akan menjadi pohon terbesar sepanjang masa dan
orang-orang akan mengingatku" .
 
Setelah beberapa tahun berdoa agar impian terkabul,
sekelompok penebang pohon datang dan menebang ketiga pohon
itu...
 
Pohon pertama dibawa ke tukang kayu. Ia sangat senang sebab
ia tahu bahwa ia akan dibuat menjadi peti harta karun.
Tetapi...doanya tidak menjadi kenyataan karena

tukang kayu membuatnya menjadi kotak

tempat menaruh makanan ternak.. Ia

hanya diletakkan di kandang dan setiap hari diisi dengan
jerami.
 
Pohon kedua dibawa ke galangan kapal. Ia berpikir bahwa
doanya menjadi kenyataan. Tetapi... ia dipotong-potong dan

dibuat menjadi sebuah perahu nelayan yang sangat kecil.

Impiannya menjadi kapal besar untuk mengangkut raja-raja

telah berakhir.
 
Pohon ketiga dipotong
menjadi potongan-potongan kayu besar dan dibiarkan
teronggok dalam gelap.
 
Tahun demi tahun berganti..., dan ketiga pohon itu telah
melupakan impiannya masing-masing.
 
Kemudian suatu hari...
Sepasang suami istri tiba di kandang. 
Sang istri melahirkan dan meletakkan bayinya di kotak
tempat makanan ternak yang dibuat dari pohon pertama.
Orang-orang datang dan menyembah bayi itu.

Akhirnya pohon pertama sadar bahwa di dalamnya telah
diletakkan harta terbesar sepanjang masa.
 
Bertahun-tahun kemudian... 
Sekelompok laki-laki naik ke atas perahu nelayan yang
dibuat dari pohon kedua. Di tengah danau, badai besar datang
dan pohon kedua berfikir bahwa ia tidak cukup kuat untuk
melindungi orang-orang di dalamnya. Tetapi salah seorang
laki-laki itu berdiri dan berkata kepada badai: 
"Diam!!!" Tenanglah". Dan badai itupun
berhenti. 
Ketika itu tahulah bahwa ia telah mengangkut Raja di atas
segala raja.
  
Akhirnya... 
Seseorang datang dan mengambil pohon ketiga. 
Ia dipikul sepanjang jalan sementara orang-orang mengejek
lelaki yang memikulnya. Laki-laki itu kemudian dipakukan di
kayu ini dan mati di puncak bukit. Akhirnya pohon ketiga
sadar bahwa ia demikian dekat
dengan TUHAN, karena YESUSlah
yang disalibkan padanya...
 
KETIKA KEADAAN TIDAK SEPERTI YANG ENGKAU INGINKAN,
KETAHUILAH BAHWA TUHAN MEMILIKI RENCANA UNTUKMU. 
JIKA ENGKAU PERCAYA PADA-NYA , IA AKAN MEMBERIMU
BERKAT-BERKAT BESAR.

KETIGA POHON MENDAPATKAN APA YANG MEREKA INGINKAN, TETAPI

TIDAK DENGAN CARA YANG SEPERTI MEREKA BAYANGKAN. 

BEGITU JUGA DENGAN KITA, KITA TIDAK SELALU TAHU APA RENCANA
TUHAN BAGI KITA. 

KITA HANYA TAHU BAHWA JALAN-NYA BUKANLAH JALAN KITA, TETAPI

JALAN-NYA ADALAH YANG TERBAIK BAGI KITA,
SELAMANYA...

JALAN DENGAN KEONG

Tuhan memberiku sebuah tugas, yaitu membawa keong jalan-jalan.
Aku tak dapat jalan terlalu cepat, keong sudah berusaha keras merangkak,

Setiap kali hanya beralih sedemikian sedikit

Aku mendesak, menghardik, memarahinya, Keong memandangku dengan
pandangan meminta-maaf,
Serasa berkata : "aku sudah berusaha dengan segenap tenaga !"
Aku menariknya, menyeret, bahkan menendangnya, keong terluka.
Ia mengucurkan keringat, nafas tersengal-sengal, merangkak ke depan.
Sungguh aneh, mengapa Tuhan memintaku mengajak seekor keong
berjalan-jalan.

Ya Tuhan! Mengapa ? Langit sunyi-senyap

Biarkan saja keong merangkak didepan, aku kesal dibelakang.

Pelankan langkah, tenangkan hati....

Oh? Tiba-tiba tercium aroma bunga, ternyata ini adalah sebuah taman
bunga.
Aku rasakan hembusan sepoi angin, ternyata angin malam demikian lembut.
Ada lagi! Aku dengar suara kicau burung, suara dengung cacing.
Aku lihat langit penuh bintang cemerlang. Oh?
Mengapa dulu tidak rasakan semua ini ?
Barulah aku teringat, Mungkin aku telah salah menduga!

Ternyata Tuhan meminta keong menuntunku jalan-jalan sehingga aku dapat
mamahami dan merasakan keindahan taman ini yang tak pernah kualami kalo
aku berjalan sendiri dengan cepatnya..

"He's here and with me for a reason"

Saat bertemu dengan orang yang benar-benar engkau kasihi, Haruslah
berusaha memperoleh kesempatan untuk bersamanya seumur hidupmu.
Karena ketika dia telah pergi, segalanya telah terlambat.

Saat bertemu teman yang dapat dipercaya, rukunlah bersamanya.
Karena seumur hidup manusia, teman sejati tak mudah ditemukan.

Saat bertemu penolongmu,
Ingat untuk bersyukur padanya.
Karena ialah yang mengubah hidupmu

Saat bertemu orang yang pernah kau cintai,
Ingatlah dengan tersenyum untuk berterima-kasih .
Karena ia lah orang yang membuatmu lebih mengerti tentang kasih.

Saat bertemu orang yang pernah kau benci,
Sapalah dengan tersenyum.
Karena ia membuatmu semakin teguh / kuat.

Saat bertemu orang yang pernah mengkhianatimu,
Baik-baiklah berbincanglah dengannya.
Karena jika bukan karena dia, hari ini engkau tak memahami dunia ini..

Saat bertemu orang yang pernah diam-diam kau cintai,
Berkatilah dia..
Karena saat kau mencintainya, bukankah berharap ia bahagia ?

Saat bertemu orang yang tergesa-gesa meninggalkanmu,
Berterima-kasihlah bahwa ia pernah ada dalam hidupmu.
Karena ia adalah bagian dari nostalgiamu

Saat bertemu orang yang pernah salah-paham padamu,
Gunakan saat tersebut untuk menjelaskannya.
Karena engkau mungkin hanya punya satu kesempatan itu saja untuk
menjelaskan.

Saat bertemu orang yang saat ini menemanimu seumur hidup,
Berterima kasihlah sepenuhnya bahwa ia mencintaimu.
Karena saat ini kalian mendapatkan kebahagiaan dan cinta sejati

GBU all...

"GOD hears more than U Say, GOD answer more than U ask, & GOD gives more
than U desired... So don't worry be Happy.. "

Kamis, 04 Juni 2009

*Bapa Surgawi*

Terima Kasih untuk semua anugerah-Mu dalam kehidupanku

Terima kasih untuk kasih-Mu yang tanpa batas bagiku, keluargaku dan
orang orang di sekitarku.

Terima Kasih menjadikan aku sebagai alasan Engkau memberkati
lingkunganku, pekerjaanku dan komunitasku.

Semua kutukan nenek moyangku, kedua orangtuaku, keluargaku dan aku
sendiri,aku patahkan dalam KUASAMU.

Segala sakit penyakit dalam tubuhku dan keluargaku telah ENGKAU
sembuhkan oleh bilur-bilurMu.

Tahirkan lidah, mulut dan bibirku sehingga hanya kata-kata berkat dan
Firman-Mu saja yang bisa aku katakan.

Tahirkan mataku sehingga hanya hal hal yang daripadaMu saja yang aku
lihat, untuk pertumbuhan imanku.

Tahirkan telingaku sehingga hanya kebenaranMu yang aku dengar dan perdengarkan.

Berkatilah aku, pasangan hidupku, anak-anakku, semua keluargaku,
rumahku, pekerjaanku serta teman2ku.

Jadikanlah kami perpanjangan hati dan tanganMU.

Terima Kasih Bapa untuk semuanya

Dalam nama TUHAN YESUS aku berdoa.

AMIN....

Jumat, 08 Mei 2009

BUKU HARIAN AYAH

Ayah dan ibu telah menikah lebih dari 30 tahun,
saya sama sekali tidak pernah melihat mereka bertengkar.

Di dalam hati saya, perkawinan ayah dan ibu ini
selalu menjadi teladan bagi saya,
juga selalu berusaha keras
agar diri saya bisa menjadi seorang pria yang baik,
seorang suami yang baik seperti ayah saya.
Namun harapan tinggallah harapan,
sementara penerapannya sangatlah sulit.

Tak lama setelah menikah,
saya dan istri mulai sering bertengkar
hanya akibat hal - hal kecil dalam rumah tangga.

Malam minggu pulang ke kampung halaman,
saya tidak kuasa menahan diri
hingga menuturkan segala keluhan tersebut pada ayah.

Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun
ayah mendengarkan segala keluhan saya,
dan setelah beliau berdiri
dan masuk ke dalam rumah.
Tak lama kemudian, ayah mengusung keluar
belasan buku catatan
dan ditumpuknya begitu saja
di hadapan saya.

Sebagian besar buku tersebut
halamannya telah menguning,
kelihatannya buku-buku tersebut
telah disimpan selama puluhantahun.

Ayah saya tidak banyak mengenyam pendidikan,
apa bisa beliau menulis buku harian?
Dengan penuh rasa ingin tahu
saya mengambil salah satu dari buku-buku itu.

Tulisannya memang adalah tulisan tangan ayah,
agak miring dan sangat aneh sekali,
ada yang sangat jelas,
ada juga yang semrawut,
bahkan ada yang tulisannya
sampai menembus beberapa halaman kertas.

Saya segera tertarik dengan hal tersebut,
mulailah saya baca dengan seksama
halaman demi halaman isi buku itu.

Semuanya merupakan catatan hal-hal sepele,
"Suhu udara mulai berubah menjadi dingin,
ia sudah mulai merajut baju wol untuk saya."

"Anak - anak terlalu berisik, untung ada dia."


Sedikit demi sedikit tercatat,
semua itu adalah catatan mengenai
berbagai macam kebaikan
dan cinta ibu kepada ayah,
mengenai cinta ibu terhadap anak-anak
dan terhadap keluarga ini.

Dalam sekejap saya sudah membaca habis beberapa buku,
arus hangat mengalir di dalam hati saya,
mata saya berlinang air mata.

Saya mengangkat kepala,
dengan penuh rasa haru saya berkata pada ayah
"Ayah, saya sangat mengagumi ayah dan ibu."


Ayah menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Tidak perlu kagum, kamu juga bisa."

Ayah berkata lagi,
"Menjadi suami istri selama puluhan tahun lamanya,
Tidak mungkin sama sekali
tidak terjadi pertengkaran dan benturan"


Intinya adalah harus bisa belajar
untuk saling pengertian dan toleran.
Setiap orang memiliki masa emosional,
ibumu terkadang kalau sedang kesal,
juga suka mencari gara - gara,
melampiaskan kemarahannya pada ayah, mengomel.

Waktu itu saya bersembunyi di depan rumah,
di dalam buku catatan
saya tuliskan segala hal yang telah ibumu lakukan
demi rumah tangga ini.

Sering kali dalam hati saya penuh dengan amarah
waktu menulis kertasnya sobek
akibat tembus oleh pena.
Tapi saya masih saja terus menulis
satu demi satu kebaikannya,
saya renungkan bolak balik
dan akhirnya emosinya juga tidak ada lagi,
yang tinggal semuanya adalah kebaikan dari ibumu."

Dengan terpesona saya mendengarkannya.
Lalu saya bertanya pada ayah,
"Ayah, apakah ibuku pernah melihat catatan-catatan ini?"


Ayah hanya tertawa dan berkata,
"Ibumu juga memiliki buku catatan.
Dalam buku catatannya
itu semua isinya adalah tentang kebaikan diriku.

Kadang kala dimalam hari,
Menjelang tidur,
kami saling bertukar buku catatan,
dan saling menertawakan pihak lain. ha. ha. ha."


Memandang wajah ayah
yang dipenuhi senyuman
dan setumpuk buku catatan
yang berada di atas meja,
tiba - tiba saya sadar akan rahasia dari suatu pernikahan :

"Cinta itu sebenarnya sangat sederhana,
ingat dan catat kebaikan dari orang lain..
Lupakan segala kesalahan dari pihak lain."

Kamis, 07 Mei 2009

MENYALAHKAN SEBENARNYA TIDAK PENTING"


Aku baru masuk kuliah saat bertemu dengan Keluarga White.
Mereka sangat berbeda dengan keluargaku, namun aku langsung
merasa betah bersama mereka.

Aku dan Jane White berteman di sekolah, dan
keluarganya menyambutku- orang luar-
seperti sepupu jauh.

Dalam keluargaku, jika ada masalah,
menyalahkan orang itu selalu penting.

"Siapa yang melakukan ini?"
ibuku membentak melihat dapur berantakan.

"lni semua salahmu, Katharine,"
ayahku berkeras jika kucing berhasil
keluar rumah atau mesin cuci piring rusak.

Sejak kami kecil,
aku dan saudara-saudaraku saling mengadu.

Kami menyiapkan kursi untuk si Terdakwa
di meja makan.

Tapi Keluarga White tidak mencemaskan siapa berbuat apa.
Mereka merapikan yang berantakan
dan melanjutkan hidup mereka.

lndahnya hal ini kusadari penuh
pada musim panas ketika Jane meninggal.

Keluarga White memiliki enam anak:
tiga lelaki, tiga perempuan.

Satu putranya meninggal saat masih kecil, mungkin karena
itulah kelima yang tersisa menjadi dekat.

Di bulan Juli, aku dan tiga putri White memutuskan
berjalan-jalan naik mobil dari rumah mereka di Florida
ke New York
Dua yang tertua, Sarah dan Jane, adalah mahasiswa,
dan yang terkecil, Amy,
baru menginjak enam belas tahun.

Sebagai pemilik SIM baru yang bangga,
Amy gembira ingin melatih keterampilan mengemudinya
selama perjalanan itu. Dengan tawanya yang lucu,
ia memamerkan SIM-nya kepada siapa saja
yang ditemuinya.

Kedua kakaknya ikut mengemudikan mobil pada
bagian pertama perjalanan,
tapi saat mereka tiba di daerah yang berpenduduk jarang,
mereka membolehkan Amy mengemudi.

Di suatu tempat di South Carolina , kami keluar dari jalan
tol untuk makan. Setelah makan, Amy mengemudi lagi.
Ia tiba di perempatan dengan tanda stop
untuk mobil dari arah kami.

Entah ia gugup atau tidak memperhatikan
atau tidak melihat tandanya
tak akan ada yang tahu.
Amy terus menerjang perempatan
tanpa berhenti.

Pengemudi trailer semi-traktor besar itu
tak mampu mengerem pada waktunya,
dan menabrak kendaraan kami.
Jane langsung meninggal.

Aku selamat hanya dengan sedikit memar.
Hal tersulit yang kulakukan adalah menelepon
Keluarga White dan memberitakan
kecelakaan itu dan bahwa Jane meninggal.

Sesakit apa pun perasaanku
kehilangan seorang sahabat,
aku tahu bagi mereka jauh lebih pedih
kehilangan anak.

Saat suami-istri White tiba di rumah sakit,
mereka mendapatkan dua putri
mereka di sebuah kamar.

Kepala dibalut perban;
kaki Amy digips.
Mereka memeluk kami semua
dan menitikkan air mata
duka dan bahagia saat
melihat putri mereka.

Mereka menghapus air mata
kedua putrinya dan menggoda Amy
hingga tertawa
sementara ia belajar menggunakan kruknya.

Kepada kedua putri mereka,
dan terutama kepada Amy,
berulang-ulang mereka
hanya berkata,
"Kami gembira kalian masih hidup."

Aku tercengang.
Tak ada tuduhan.
Tak ada tudingan.
Kemudian, aku menanyakan
Keluarga White mengapa mereka tak
pernah membicarakan fakta
bahwa Amy yang mengemudi
dan melanggar rambu-rambu lalu lintas.

Bu White berkata,
"Jane sudah tiada, dan kami sangat
merindukannya.
Tak ada yang dapat kami katakan
atau perbuat yang
dapat menghidupkannya kembali.

Tapi hidup Amy masih panjang.
Bagaimana ia bisa menjalani
hidup yang nyaman dan
bahagia jika ia merasa
kami menyalahkannya atas kematian
kakaknya?"

Mereka benar.
Amy lulus kuliah dan menikah
beberapa tahun yang lalu.
Ia bekerja sebagai guru sekolah anak luar biasa.

Putrinya sendiri sudah dua,
yang tertua bernama Jane.

Aku belajar dari Keluarga White
bahwa menyalahkan sebenarnya tidak penting.
Bahkan, kadang-kadang, tak ada gunanya sama sekali.

BONUS
Forgiveness does not change the past,
but it does enlarge
the future.

Minggu, 03 Mei 2009

Cerita Michael

Berikut ini adalah sebuah surat,
yang ditulis oleh seorang pelaut muda
untuk ibunya ketika ia dirawat di rumah sakit
karena luka perang di Korea,
tahun 1950.

Surat itu tiba di tangan seorang pastor
Angkatan Laut yang membacakannya
di hadapan 5000 pelaut di Pangkalan Angkatan Laut San Diego,
tahun 1951.

Pastor Angkatan Laut itu telah berbicara dengan pelaut muda
dimaksud, ibunya, dan dengan Sersan dari patroli yang bertugas.
Pastor Angkatan Laut ini, Pastor Walter Muldy,
meyakinkan semua orang yang bertanya, bahwa cerita
ini adalah nyata.

Surat ini pernah dibaca sekali di tahun 1960 di sebuah
stasiun radio di Midwestern pada saat Natal.
Kini kami menghadirkan surat
itu di sini dan kami biarkan surat itu
untuk bisa menempatkan nilai-nilainya
sendiri.

Ibu Yang Terkasih,

Saya tak berani menulis surat ini ke orang lain
selain kepada Ibu karena tak
ada orang yang bakal mempercayainya.
Mungkin Ibu juga akan merasa sulit
untuk mempercayainya,
tapi saya harus menceritakan hal ini ke seseorang.

Pertama-tama, saya sekarang sedang di rumah sakit.
Jangan khawatir, Ibu
dengar saya, jangan khawatir.
Saya terluka, tapi saya baik-baik saja
sekarang.

Dokter mengatakan kalau saya bisa bangun
dan berkeliling dalam waktu satu bulan.
Tetapi, bukan itu yang ingin saya ceritakan pada Ibu.

Ibu ingat, ketika saya bergabung dengan Angkatan Laut tahun lalu;
ingat ketika saya pergi, bagaimana Ibu berkata
pada saya untuk selalu berdoa
kepada St. Michael, setiap hari?

Ibu sebetulnya tidak perlu mengatakan hal itu.
Semenjak itu, saya ingat kata-kata Ibu
untuk selalu berdoa kepada St. Michael,
Sang Malaikat Tertinggi.

Ibu bahkan memberikan saya nama itu.
Saya selalu berdoa kepada St. Michael.
Ketika saya tiba di Korea, saya bahkan
berdoa lebih keras.

Ibu ingat doa yang Ibu ajarkan pada saya?
"Michael, Michael dari kesatuan balatentara yang menghiasi surga."
Ibu tahu kelanjut-annya.
Saya mengucapkan doa itu setiap hari,
kadang-kadang ketika
saya sedang berbaris atau beristirahat,
tetapi selalu sebelum saya pergi tidur.
Saya bahkan mengajak beberapa teman saya untuk berdoa itu.

Suatu hari, saya mendapat tugas di barisan depan.
Waktu itu kami sedang mengintai musuh.
Saya bergerak perlahan dalam cuaca yang sangat dingin;
napas saya seperti asap cerutu.
Saya pikir saya tahu tiap orang yang sedang
patroli, ketika di sebelah saya ada seorang pelaut
yang belum pernah saya temui.
Dia lebih besar dari seluruh pelaut yang pernah saya lihat.
Tingginya lebih dari 6 kaki 4 inci
dan badannya proporsional.

Hal itu membuat saya merasa aman berada dekat orang
yang bertubuh tinggi besar seperti itu.

Bagaimana pun juga,
di sanalah kami susah payah berjalan.
Sebagian patroli menyebar.
Untuk memulai pembicaraan, saya berkata,
"Dingin ya", lalu saya tertawa.
Saya berbicara mengenai cuaca
di tengah-tengah kemungkinan terbunuh
dalam tiap menitnya!

Teman seperjalanan saya kelihatannya mengerti.
Saya dengar dia tertawa kecil.
Saya memandangnya,
"Saya belum pernah melihat kamu sebelumnya.
Saya pikir saya sudah tahu setiap orang berseragam di sini."

"Saya baru saja bergabung,"
dia menjawab, "Nama saya Michael."

"Begitu ya,"
Saya berkata terkejut, "Itu juga nama saya."

"Saya tahu," katanya dan kemudian mulai berdoa,
"Michael, Michael dari pagi."

Saya sangat tercengang sampai
tidak bisa berkata apa-apa selama semenit.
Bagaimana dia tahu nama saya,
dan doa yang Ibu ajarkan pada saya?

Lalu saya tertawa pada diri saya sendiri,
setiap orang berseragam di sini tahu
mengenai saya.
Kan saya pernah mengajarkan doa tersebut
pada setiap orang
yang mau mendengarkannya.
Maka terkadang, mereka juga menghubung-hubungkan
saya sebagai St. Michael.

Tak satu pun dari kami berbicara
selama beberapa saat, ketika kemudian dia
memecah kesunyian.

"Kita akan mempunyai masalah di depan."
Orang ini pasti kondisi fisiknya
sedang bagus karena ketika dia bernapas,
saya tak dapat melihat napasnya.
Napas saya keluar bagai kabut.
Tak ada senyum tersungging lagi dari pria itu
sekarang.
Masalah di depan,
saya berpikir pada diri saya sendiri; dengan
seluruh musuh di sekitar kita,
tidak ada yang perlu ditutup-tutupi.

Salju mulai turun dalam butiran-nya
yang tebal-tebal.
Dalam sekejap, seluruh sisi kota sudah
tertutup salju, dan saya berbaris
dalam kabut putih dari
butiran-butiran salju yang basah dan lengket.

Teman seperjalanan saya menghilang.

"Michael!" Saya berteriak cemas.
Saya merasakan tangannya di tangan saya;
suaranya kuat.
"Sebentar lagi ini akan berhenti."

Ramalannya terbukti benar.
Dalam beberapa menit salju berhenti tiba-tiba
seperti waktu mulainya,
matahari bagaikan sebuah pelat yang bersinar terang.
Saya menengok ke belakang untuk melihat sebagian patroli.

Tidak ada orang
dalam pandangan saya.
Kami kehilangan mereka waktu salju tebal turun.
Saya melihat ke depan
ketika kami melewati sebuah tanjakan kecil.

Ibu, jantung saya berhenti.
Mereka ada tujuh, tujuh musuh berseragam celana
panjang, jaket dan topi yang lucu.
Hanya saja tidak ada yang lucu dari
mereka sekarang.
Tujuh senapan diarahkan ke kami.

"Tiarap, Michael!"
Saya berteriak, dan menghantam bumi yang membeku.
Saya mendengar senapan-senapan itu
menembak secara hampir bersamaan.
Saya mendengar desingan peluru-pelurunya.
Michael masih tetap berdiri.

Ibu, musuh-musuh itu tak mungkin salah sasaran,
tidak dalam jarak itu.
Saya menunggu untuk melihat Michael
benar-benar kehabisan napas,
tetapi dia tetap berdiri,
tidak bergerak terhadap tembakan-tembakan
yang mengarah padanya.

Dia lumpuh karena ketakutan.
Kadang-kadang itu terjadi, Bu,
bahkan kepada yang paling berani sekali pun.
Dia seperti seekor burung yang dikejutkan
oleh seekor ular.

Paling tidak itu yang kemudian terpikir oleh saya.
Saya melompat untuk menarik dia ke bawah
dan saat itulah saya mendengar tembakan.
Saya tiba-tiba merasakan panas di dada saya.
Saya bahkan sempat berpikir
apakah ini rasanya jika tertembak. Sekarang saya tahu.

Saya ingat saya merasakan tangan-tangan
yang kuat melingkupi saya,
tangan-tangan yang membaringkan saya
dengan hati-hati sekali di sebuah
bantal salju.
Saya membuka sepasang mata saya,
untuk pandangan yang
terakhir. Saya pikir saya sedang sekarat.
Malah mungkin saya sudah mati.

Saya ingat waktu itu saya berpikir,
ini tidaklah terlalu buruk.

Mungkin saya sedang memandang matahari.
Mungkin saya sedang dalam keadaan
shock, tetapi sepertinya saya melihat
Michael berdiri tegak kembali, hanya
saja kali ini wajahnya bersinar dengan sangat megah.

Seperti yang saya katakan,
mungkin karena matahari di mata saya, dia
kelihatan berubah setiap kali saya melihatnya.
Dia bertumbuh lebih besar,
tangan-tangannya terbentang lebar;
mungkin karena salju yang turun lagi,
saya melihat ada kecemerlangan di sekitar dia
seperti sayap-sayap dari
seorang malaikat.

Di salah satu tangannya ada sebuah pedang,
pedang yang bergerak cepat dengan sejuta cahaya.

Itulah hal terakhir yang saya ingat
sampai sebagian teman-teman saya datang
dan mendapatkan saya;
saya tidak tahu berapa lama telah berlalu.
Kadang-kadang rasa sakit dan demam saya
bisa hilang untuk sesaat.

Saya ingat mengatakan pada mereka
akan adanya musuh di depan.

"Michael, engkau dimana?" saya bertanya.
Saya lihat mereka saling
berpandangan.
"Siapa yang dimana?"
tanya salah seorang di antara mereka.

"Michael, pelaut yang besar itu.
Saya sedang berjalan dengan dia tepat
sebelum hujan badai salju menghantam kita."

"Nak," Sersan berkata,
"Kamu ti-dak sedang berjalan dengan siapa pun.
Saya mengawasimu setiap saat.
Kamu bergerak terlalu jauh.
Saya baru saja mau
memanggilmu untuk kembali,
ketika kamu menghilang di tengah salju."
Dia memandang saya dengan penuh curiga.
"Bagaimana kamu melakukan hal itu, Nak?"

"Bagaimana saya melakukan apa?"
saya bertanya setengah marah, tanpa
memikirkan luka saya.
"Pelaut itu bernama Michael dan saya baru."
"Nak," kata Sersan dengan ramahnya,
"Saya sendiri yang memilih orang-orang
berseragam di sini dan tidak ada Michael
yang lain di kesatuan kita. Hanya
kamu satu-satunya Mike di sini."

Dia jeda untuk semenit,
"Bagaimana kamu melakukannya, Nak?
Kami mendengar beberapa tembakan,
bukan dari senapanmu,
dan tak ada satu pun petunjuk
mengenai bagaimana tujuh musuh itu
bisa berada di lembah sana."

Saya tidak berkata apa-apa;
apa yang dapat saya katakan?
Saya hanya dapat
memandang mereka dengan
mulut terbuka karena heran.

Setelah itu, Sersan berbicara lagi.
"Nak," dia berkata dengan hati-hati,
"Setiap orang dari ketujuh musuh itu
terbunuh oleh sambaran pedang."

Hanya itu yang mau saya ceritakan pada Ibu.
Seperti yang saya katakan, itu
mungkin karena sinar matahari
yang mengenai mata saya, mungkin karena demam
atau sakit yang saya rasakan,
tapi itulah yang terjadi.

Salam Sayang,

Michael

Sumber: Majalah AVE MARIA edisi AM-53, Maret-April 2009

Penterjemah: Ursula Brigitta Tiwow